Penggusuran
Suatu hari saat seseorang sedang santai di rumahnya ia menemukan informasi bahwa rumahnya akan digusur. Akhirnya ia berusaha dan berjuang agar rumahnya tidak terkena gusur. Segala cara ia tempuh, bahkan ia juga sudah banyak yang dikeluarkan. Mulai dari uang, tenaga, bahkan rasa. Ia berjuang dan telah menunggu selama satu tahun. Asam,pahit, dan manis semua ia telah rasakan untuk memperjuangkannya.
Namun, saat keputusannya tiba ia diputuskan harus keluar dari rumahnya dan membawa segala barang-barangnya termasuk segala kerugiannya. Diketahui belakangan ia dipaksa keluar dari rumahnya itu dan segera mengosongi rumahnya.
Akhirnya mau tidak mau dan sudi tidak sudi ia mengemasi barang-barang miliknya karena sang penggusur mau menggusur rumah dan meratakannya dengan tanah. Si penggusur sambil berkata “Anda pasti bisa hidup di luar sana tanpa rumah ini.”
Si penggusur dengan congkak menggusur rumah orang yang belakangan terkenal tulus merawat rumah mereka itu. Alhasil rumah telah rata dengan tanah. Orang tulus itu menangis tapi apalah daya tangisan tak mampu meluluhkan hati si penggusur dan juga tak mampu mengembalikan rumahnya yang telah rata dengan tanah.
Pergilah ia membawa seluruh barang-barangnya. Menapaki kehidupan barunya, lalu kemudia ia berjuang untuk beradaptasi dan berjuang memulihkan diri pasca penggusuran.
Namun, suatu ketika si penggusur itu datang kembali kepada si tulus dan menyuruh si tulus untuk mengajak menempati kembali rumahnya. Ya, itu tidak mungkin terjadi karena rumah itu sudah hancur lebur dan rata dengan tanah.
Si penggusur berkata “rupanya saya tidak bisa membohongi perasaan saya dan saya menyesal telah mengusir engkau dan menggusur rumah kita.”
Si tulus berkata “bagaimana mungkin aku kembali ke rumah itu jika semua sudut bangunannya telah kau hancurkan? Di mana aku harus meletakan barangku kembali apabila rumah itu telah rata dengan tanah?”
Tabik,.

Komentar
Posting Komentar