Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2023

Syair Hujan

Gambar
Hujan, akhir-akhir ini aku sudah tidak bertemu denganmu lagi. Banyak pelajaran yang ku dapat mengenai ketidakadaan dirimu. Hujan, maafkan diriku yang ketika kau datang kepadaku, aku justru mengabaikan dirimu. Kini, aku merindukanmu, sungguh.  Panas ini menyiksa. Dia ternyata tidak toleran kepadaku. Dia tidak seperti dirimu yang memeluk erat diriku di keheningan malam.  Hujan, di mana kau kini?  Datanglah. Bantu aku menepiskan rindu ini.  Bantu aku mengerjakan tugas hidup yang sulit kupahami. Kuajak kau menari di malam ini, berdua.  Hujan, jika kau datang kembali aku berjanji akan menghargaimu.  Hujan, isilah kembali baskom-baskom di relung dada ini.  Hujan, buatlah tubuh ini kuyup kembali. Hanya bau semerbak aspalmu yang mampu buatku tenang.  Aku akan berubah demi dirimu.  Hujan, maafkanlah diriku, datanglah, dan terimalah kembali diri ini. Tabik, 37 derajat celcius suhu Jakarta

Penggusuran

Gambar
Suatu hari saat seseorang sedang santai di rumahnya ia menemukan informasi bahwa rumahnya akan digusur. Akhirnya ia berusaha dan berjuang agar rumahnya tidak terkena gusur. Segala cara ia tempuh, bahkan ia juga sudah banyak yang dikeluarkan. Mulai dari uang, tenaga, bahkan rasa. Ia berjuang dan telah menunggu selama satu tahun. Asam,pahit, dan manis semua ia telah rasakan untuk memperjuangkannya.  Namun, saat keputusannya tiba ia diputuskan harus keluar dari rumahnya dan membawa segala barang-barangnya termasuk segala kerugiannya. Diketahui belakangan ia dipaksa keluar dari rumahnya itu dan segera mengosongi rumahnya.  Akhirnya mau tidak mau dan sudi tidak sudi ia mengemasi barang-barang miliknya karena sang penggusur mau menggusur rumah dan meratakannya dengan tanah. Si penggusur sambil berkata “Anda pasti bisa hidup di luar sana tanpa rumah ini.”  Si penggusur dengan congkak menggusur rumah orang yang belakangan terkenal tulus merawat rumah mereka itu. Alhasil rumah te...

Berdamai Dengan Kesia-siaan

Tenang. Tak berbekas, tak ada penyesalan dalam penyesalan itu sendiri.  Tak ada yang perlu lagi untuk di sesali, kawan. Kini, kuajak kau bermain lagi untuk menemukan potongan hidup yang sempat hilang raib. Menemukan orang baru dalam hidupmu. Melekatan senyuman dan kasih tulus kepadanya. Masa lalu jangan kau tangisi, ia hanya menjadi gulana.  Memecut pada lembaran baru, hari demi hari saling menguati. Tak ada lagi gundah tak ada lagi paranoid yang membayangimu. Itulah kenapa dinamakan cinta. Karena ia adihulung. Dirimu mengejawantahkan cinta yang sesungguhnya. Bukan bungkusan sampah belaka yang terbang melayang hanya karana ditiup angin. Sepoi namun menjauhkan itu darimu.  Dirimu kuat, tak sebatas kata. Elegi ini kukidungkan hari-demi-hari, bukan karana kepergianmu tapi karana ketidakberdayaanku akan muslihatmu. Lihatlah, dunia kembali.  Memekikan kepada ibunya seraya berkata “ibu aku kembali.” Sungguh cinta amat kejam, kataku. Bapakku pun tak rela anaknya setiap hari...