Berdamai Dengan Kesia-siaan

Tenang. Tak berbekas, tak ada penyesalan dalam penyesalan itu sendiri. 

Tak ada yang perlu lagi untuk di sesali, kawan. Kini, kuajak kau bermain lagi untuk menemukan potongan hidup yang sempat hilang raib. Menemukan orang baru dalam hidupmu.

Melekatan senyuman dan kasih tulus kepadanya. Masa lalu jangan kau tangisi, ia hanya menjadi gulana. 

Memecut pada lembaran baru, hari demi hari saling menguati. Tak ada lagi gundah tak ada lagi paranoid yang membayangimu. Itulah kenapa dinamakan cinta. Karena ia adihulung.

Dirimu mengejawantahkan cinta yang sesungguhnya. Bukan bungkusan sampah belaka yang terbang melayang hanya karana ditiup angin. Sepoi namun menjauhkan itu darimu. 

Dirimu kuat, tak sebatas kata. Elegi ini kukidungkan hari-demi-hari, bukan karana kepergianmu tapi karana ketidakberdayaanku akan muslihatmu. Lihatlah, dunia kembali. 

Memekikan kepada ibunya seraya berkata “ibu aku kembali.” Sungguh cinta amat kejam, kataku. Bapakku pun tak rela anaknya setiap hari bergelabah. Aku termangu pagi itu. Ada kecewa yang tak bisa aku elakkan lagi. “Sudah” kata Ibuku. Maafkanlah. 

“Maaf Bapak, aku belum bisa memaafkannya. Biarlah raga dan jiwaku jadi saksinya di hari pembalasan nanti. Biarlah mereka yang berbicara.” Kataku. Kini, yang kucatat adalah adorasiku sia-sia. 

Terima kasih. Aku sudah berdamai. Aku tidak lagi menyalahkan diri sendiri. Aku menghargai setiap keputusan dan pilihan yang tidak melibatkanku. Aku memilih untuk menerima keputusannya, lalu melanjutkan hidup seperti seharusnya. 


Tabik,.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepada Novi

Tak Malukah Kita?

Jogja Malam Setengah Dua