Filosofi Teras Jalan Ninja Keluar Dari Hubungan Toxic
Persis seperti yang filosofi teras tulis dalam bukunya. Hidup hanya ada dua kendali yang dikenal dengan dikotomi kendali. Yakini sesuatu yang bisa dikendalikan, dan sesuatu yang tidak bisa dikendalikan. Mengenai sesuatu yang bisa kita kendalikan nyatanya hanya sedikit, yakni perihal tindakan kita, cara berpikir kita, opini kita, dan usaha kita.
Adapun perihal yang tidak bisa kita kendalikan justru
jauh lebih banyak dari sesuatu yang bisa kita kendalikan. Yakni seperti opini
orang lain kepada kita, perlakuan orang lain kepada kita, kesehatan kita, cuaca
hari ini dan esok, nilai tukar rupiah, calon presiden 2024, dan masih banyak
lagi, termasuk putus cinta.
Kenapa bisa putus cinta masuk ke dalam wilayah hal yang tidak bisa kita kendalikan?
Dalam hubungan pasti ada usaha, atau ada yang
namanya pengorbanan. Jika dalam hubungan ditemukan masalah, hal yang mesti kamu
dan pasanganmu lakukan adalah menganalisis permasalahannya sehingga tidak
menyebar berlarut-larut.
Jika selama ini saya sudah berusaha memberikan
yang terbaik dalam hubungan saya, namun hal itu gagal bukan berarti saya salah
atau menjadi orang yang gagal. Namun, Karena saya sudah mengusahakan segala
sesuatu untuk mempertahankan hubungan bersama dia, dan karena perlakuan hingga pola
pikir orang itu sudah di luar kendali saya. Maka, saya tidak mungkin lagi menuntut dia
memberi perlakuan seperti yang saya inginkan. Semua sudah di luar kendali saya.
Bukankah itu pasrah dengan keadaan? jawabannya tidak. Filsafat Stoa sama sekali tidak mengajarkan kita pasrah. Saat kita sudah melakukan yang terbaik di dalam kendali kita, maka itu sudah cukup.
Anda sudah mengusahakan sebelumnya dengan baik, sedangkan hasilnya berbanding terbalik dengan usaha Anda, lantas apa lagi yang ada lakukan? apalagi dalam sebuah hubungan yangmana ini menyangkut usaha kedua belah pihak. Dalam sebuah hubungan, Anda tidak mau kan berusaha sendirian? jadi, gak perlu lagi deh dipusingin.
Dalam filosofi teras juga diselipkan mantra, ya
mantra. Mantranya adalah kebahagiannmu tidak digantungkan oleh orang lain, kebahagiaanmu
adalah tanggung jawab sendiri.
Sekarang saya percaya, bahwa sangat sulit untuk
keluar dari hubungan yang beracun atau toxic. Makanya untuk anda yang terjebak
dalam hubungan toxic, segeralah sadar dan segera mencari bantuan. Benar,
bantuan.
So, terima kasih kepada Pak Henry Manampiring
atas bukunya yang memecah rasa sedih sehingga berakhirnya hubungan ini membuat
saya jauh sedikit lebih legowo. Kehadiran orang-orang di sekeliling saya pun
memberi aura positif kepada saya, sehingga fokus kesedihan saya jauh lebih
teralihkan. Dan yang terpenting, kepasrahan saya kepada Tuhan adalah kunci diri
ini lebih legowo merelakannya.
Seperti awal alasannya saya setiap kali ditanya
mengapa mencintainya, sayapun kini tidak punya alasan juga kenapa saya ikhlas
saat dia memilih pergi. Alasannya yakni tidak ada alasan. Saya juga tidak
menaruh dendam kepada dirinya yang sudah membuat “the pieces of my heart”.
Saya jauh lebih legowo, jauh lebih ikhlas,
meski sesekali teringat dan jatuh ke dalam lubang kesedihan. Tapi saya tidak
menyerah oleh keadaan untuk bangkit, keluar dari situasi ini.
Saya yakin seperti cuaca, masa jatuh ini akan
segera berakhir dan saya kembali bersama diri saya seutuhnya.

Komentar
Posting Komentar