Butuh Tekad Untuk Ninggalin “Si Toxic”

 

Setahun belakangan telah menyadari perubahan dari dirinya. Pamit dan senyum seakan perpisahan paling pahit yang harus diambil diusia segini. Iya segini, usia yang seharusnya menjadi bulan-bulannya meniti keseriusan dalam berhubungan, namun itu kandas begitu saja. Seperti kata para senior bahwa sekeras apapun sesuatu yang kamu genggam akan juga lepas kalo cuma kamu sendirian yang genggam.

Setahun belakangan lelah menunggu kehadirannya. Menjalin hubungan nan dihijabkan jarak. Menunggu dengan penuh kesabaran dan kesetiaan. Melewati banyaknya cobaan dengan sendiri di kota ini. Entah apa yang dia pikirkan di sana. Diri ini sudah menunggu dengan setia dan kerap kali dirundung kekecewaan yang datang dari ujung pulau jawa.

Ibarat buah simalakama, sudah dia nan jauh di sana, eh tingkahnya ada pula adanya. Maksud saya, anda pasti capek meladeni mahluk yang tak kunjung mengerti maksud anda. Saya harus dipusingkan dengan beribu sikap dia yang harus saya terjemahkan sendiri. Jika salah, saya game over alias dia akan silent treatment ke saya dan paling parahnya berujung kata “pisah”.

Laki-laki yang saya kenal namanya saat menjalani putih biru di sebelah Barat dari rumah saya. Saya tak pernah menyangka akan berlanjut hubungan saya dua tahun kebelakang. Mahasatri itu memaksa saya untuk menjalin hubungan dengannya, dan meyakinkan saya untuk bisa melewati halang rintang bersamanya. Awalnya saya dihujani perhatian dan bom love. Akhirannya saya disepelekan, dihina, direndahkan, tidak diberi waktu, tidak dapat kesempatan menjelaskan, selalu disalahkan, disia-siakan, bahkan tidak dihargai saya sebagai perempuan.

Saya mulai menyadari perubahan sikapnya setelah dia balik ke kotanya untuk menimba ilmu agama. Maklum, dia belasan tahun tumbuh dan belajar di lingkungan pondok pesantren di Timur Jawa. Bukan jadi jaminan, orang yang belasan tahun mondok menjadi paham akan ilmunya. Maksud saya, minimal menerapkan ilmunya buat dirinya dan orang terdekatnya.

Saya menyadari hubungan mulai kacau saat akhir Oktober, awal November. Saat itu ulang tahun saya, dan tahu apa yang dia hadiahkan ke saya. Bukan sekuntum mawar merah nan indah, bukan juga hadiah-hadiah lainnya yang disukai wanita. Tapi yang saya dapatkan di hari ulang tahun saya adalah kata hinaan. Ya, “Bajingan” keluar dari mulut (yang katanya) “santri” itu persis di telinga saya dan di pagi ulang tahun saya saat kami sedang bercekcok perihal masalah sepele sehari sebelumnya.

Kata lainnya seperti “Bajingan, busuk, Jancuk, Bodoh, guru gak punya otak, sampai mahasiswa bego.” pun keluar dari mulut hingga ketikan yang katanya Mahasantri itu. laki-laki itu pernah mengancam ingin bunuh saja jika diputuskan. Mas Keamanan pondok, begitulah sapaan beliau di pondoknya. Saking sibuknya, dia tidak pernah ada waktu buat sekedar menelpon saya barang 30 menit dan bahkan telpon saya selalu ditolak. Ya dia benar-benar tidak pernah mengangkat telpon saya. Anda bayangkan satu tahun anda menelpon pujaan hati tapi tidak pernah dia mengangkatnya.

Masalah sepele, selalu menjadi besar. Dalil yang dia keluarkan adalah bahwa “harus nurut.”  Saya dituntut nurut olehnya, bahkan sewaktu dia meminta menghapus semua followers laki-laki di media sosial saya. Dia juga melarang saya bermain bersama teman-teman yang telah lama bermain dengan saya semasa kuliah dulu. Semua saya jalani apa adanya.

Semua janji tinggal janji. Janji-janjinya hanya pepesan kosong belaka. Saya merasa aneh karena dia berani sekali berjanji tapi tidak satupun dia tepati. Hancur lebur hubungan kami di bulan Desember, saat janjinya tinggal janji. Puncak saya menyerah adalah setelah lebaran atau saat dia kembali ke kota kelahirannya. Harapan saya, dia menemui saya karena saya telah menunggu setahun penuh. Nyatanya tidak, dia mengatakan tidak betah di sini dan ingin kembali ke pondoknya. Saya betul-betul kecewa dengan keputusannya. Sebagai perempuan saya kecewa atas sikapnya memperlakukan saya selama ini seperti yang saya sebutkan di atas. Ditambah sewaktu ketika dia memaksa saya untuk mengirimkan potret bagian tubuh yang jelas saya tolak dengan tegas. Anda tidak salah membaca, itulah sikapnya. Sikap seorang yang "katanya" santri tidak mencerminkan sikap yang seharusnya.

Saya kecewa, saya lelah dengan sikapnya, inilah tekad saya, sebab inilah batas saya, inilah batas kesabaran saya. Dan kesabaran saya pun tidak akan pernah cukup untuk orang seperti dia.

Nb: tanggal penulisan dirahasiakan , tidak sinkron dengan tanggal publish.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepada Novi

Tak Malukah Kita?

Jogja Malam Setengah Dua