Amorfati Fatum Brutum - Novifath Berfilsafat

 


Renungan pagi. Alkisah seorang tokoh mantan Panglima Angkatan Udara era Presiden Soekarno bernama Omar Dani. Kariernya ibarat pesawat jet melayang tinggi, dalam usia relative muda sekembali dari pendidikan di luar negeri mendapat kepercayaan sebagai pucuk pimpinan di AURI tahun 60 an.

 Perjalanan nasib tak terduga, karena pergolakan politik saat itu, tiba-tiba karir pak Omar Dani  menukik turun. Ibarat  karirnya seperti pesawat terbang yang parkir di dalam hangar dan tak pernah tetbang lagi. Kisah ini amat tragis, memilukan, seumpama kidung yang diperdengarkan lirih di malam sunyi.

Terlepas dari pro kontra intrik-intrik perpolitikan saat itu, namun kita patut terkesan dan mengambil pelajaran dari sikap yang ditunjukkan almarhum  Omar Dani sebagai panglima tinggi di AURI kala itu dengan ksatria menerima dan menghadapi nasibnya. 

Segala risiko atas perintah komandonya ditanggungnya sendiri tanpa melempar tanggungjawab kepada anak buahnya. Sekembali dari kunjungan ke luar negeri bersama isterinya yang sedang mengandung, menerima nasib langsung menjalani tahanan politik dalam penjara sampai dikenakan status hukuman mati. 

Beruntung, seiring dengan dinamika politik saat itu, akhirnya status hukuman mati diubah menjadi hukuman seumur hidup, yang mengharuskan almarhum meringkuk di penjara sampai menjelang akhir hidupnya (cuplikan kisah ini dinukil dari buku "Pelurusan Sejarah Indonesia. Dr. Asvi Warman Adam halaman 172).

Pelajaran berharga yang bisa dipetik dari kisah hebat ini, bahwa kita manusia memang berhak merencana. Takdir dan jalan hidup adalah Tuhan sebagai penentu akhir, namun ajaran agama memberi ruang bagi kita tetap harus berusaha sungguh-sungguh (berikhtiar). 

Pepatah lama kita mengatakan “ikhtiar mengawali takdir menyudahi”. Agama mengajarkan hati sabar dalam berikhtiar, berdo’a, dan tawakkal.   

Rasanya cukup relevan pula ada frasa atau filosofi berbahasa Latin yang berbunyi ”'Fatum brutum amor fati" yang artinya "mencintai takdir walau takdir itu kejam". Ini yang ternyata masih sering dijadikan semboyan anak-anak muda dalam melakoni kehidupan.

Tabik,

Wallahu a’lam….

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepada Novi

Tak Malukah Kita?

Jogja Malam Setengah Dua