Aksi Perdamaian Hijau (Green Peace) dan Korelasinya Terhadap Al-Qur'an
Kesadaran akan lingkungan adalah satu gejala menarik dalam perkembangan manusia modern di bidang pemikiran pandangan hidup (environment) ialah tumbuhnya dengan kuat paham lingkungan. Paham ini sekarang tidak lagi milik orang-orang tertentu saja dengan tingkah laku dan pandangan yang aneh, tapi sudah menjadi semacam ideologi yang baru dan tegar. Tapi lain dari ideologi-ideologi serba eksklusif, faham itu menyebar di seluruh dunia dengan wajar, karena memang menjadi kepentingan setiap orang. Bahkan banyak kalangan yang secara diam-diam ikut bersyukur dengan tampilnya berbagai kelompok faham lingkungan militan, seperti, misalnya, gerakan "Perdamaian Hijau" (Green Peace) di Eropa.
Dari sudut pandang sejarah
umat manusia modern, faham lingkungan hidup dapat dikatakan sebagai suatu
"pertobatan" atas dosa keserakahan manusia selama ini. Sebab zaman modern
yang ditandai oleh penggunaan teknologi untuk kepentingan peningkatan
setinggi-tingginya kesejahteraan hidup material manusia itu sekaligus juga
menyaksikan laju kerusakan lingkungan yang tiada taranya sepanjang masa.
Mengimbangi kemajuan ilmu dan teknologi yang konon mengikuti garis deret ukur
itu, kerusakan lingkungan juga menunjukkan grafis perkembangan berbentuk garis
hampir vertikal. Lebih-lebih jika hal itu kita lihat secara global, meliputi
seluruh umat manusia, tidak hanya secara nasional atau regional belaka.
وَسَخَّرَ
لَكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مِّنْهُۗ اِنَّ فِيْ
ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
“Dia telah menundukkan (pula) untukmu apa yang
ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran
Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS.
Al-Jatsiyah: 13)
Jadi mengisyaratkan adanya
hubungan eksploitatif antara manusia dan alam. Tetapi juga didapatkan berbagai
petunjuk Ilahi yang dapat mengarah kepada anjuran untuk membina hubungan
apresiatif kepada alam, yaitu hubungan berbentuk sikap yang menghargai dalam
maknanya yang lebih spiritual.
Hal ini, misalnya, tersimpul dari firman Allah,
"Tiada seekor pun binatang melata di bumi, dan tiada seekor pun
burung yang terbang dengan kedua sayapnya melainkan mereka itu umat-umat
seperti kamu sekalian." (QS. al-An'am:38).
Juga firman,
"Seluruh peta langit yang tujuh bertasbih kepada-Nya, begitu juga
bumi beser ta yang hidup di dalam semuanya; dan tiada suatu apa pun kecuali
mesti bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih
mereka itu." (QS. al-Isra':44).
Tabik,

Komentar
Posting Komentar