Siapakah Yang Lebih Tega Di Antara Kita Wahai Mas Keamanan Pondok?

Sehat kataku, begitu pesan singkat kubalaskan dari dia laki-laki yang telah mengecewakan itu. Lantas, beberapa hari kemudian ia datang kembali memberi isyarat yang mesti kupahami keinginannya. Tak berselang lama, ia datang lagi sambil menyirap hati ia bersuara

“Kenapa kamu tak lagi memerhatikanku? Sudah hilang rasa pedulimu padaku? Sudah lenyapkah perasaanmu hingga tak sudi berjalan kembali bersamaku. Sungguh Tega dirimu!”

Tega, katanya.

Apakah menunggu dalam kurun waktu satu tahun itu namanya tega?

Apakah memberikan kesempatan kepadanya beribu kali dalam satu tahun dengan harap perubahan itu tega?

Kau campakkan aku saat kau tiba di tanah kelahiran kita, kau buang muka di saat hari suci itu dariku, kau balas bentakan saat aku memberi senyum kepadamu, kau bilang ingin kembali ke tanah perantauan saja daripada harus bertemu denganku, kau bilang kita masing-masing saja, kau bilang cinta dan sayangku akan habis seiring berjalannya waktu, setelah itu kau tutup semua jalanku menuju dirimu.

Itukah tega yang kau maksud wahai Mas Keamanan Pondok?

Sungguh satu tahun yang sia-sia bagiku menunggu manusia sifat rongsok sepertimu.Tanpa maaf kau ingin kembali denganku. Padahal kau kembali ke tanah rantauanmu pun tak kau bicara kepadaku.

Siapakah di antara kita yang paling kejam wahai orang yang biasa disebut paling religius itu?

Tidak” kataku. Kita tidak akan pernah bersua dalam ikatan lagi, sebab kau bukan laki-laki yang aku cintai lagi, kau bukan calon imamku. Aku hanya menuruti katamu.

Bukankah ini semua kemauanmu, kataku.

Supaya kita masing-masing saja, dan saling melupakan segala cerita.

Kaulah yang menyemangatiku, menyemangati bahwa aku pasti bisa melupakanmu.

Kata terakhirmu kepadaku ialah “kamu pasti bisa tanpa aku.” 

Itulah yang aku pegang hingga kini. Aku akan mati-matian melupakanmu, sebagaimana ku mati-matian mencintaimu dulu. kini, dengan wajah tanpa malu kau menginginkan kita bersama lagi?

Jawabanku mengutip Zainuddin dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

“Kau regas segenap pucuk pengharapanku, (dan) kau patahkan!...”

Sekarang pergilah.


Juli, 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepada Novi

Tak Malukah Kita?

Jogja Malam Setengah Dua