Tiga Kerajaan Besar (1) Kerajaan Safawi
Masa Tiga Kerajaan Besar
Kerajaan Safawi (Part 1)
oleh Novi Fatonah
Jatuhnya Bagdad akibat serangan
mongol pada tahun 1258 M. bukan saja mengakhiri khalifah abbasiyah melainkan
sekaligus mengawali masa kemunduran politik Islam secara drastic. Politik umat
Islam terpecah-pecah menjadi sejumlah kerajaan kecil, seperti dinasti Ilkhan,
dinasti Timuriyah, dan dinasti Mamalik.
Kondisi politik Islam berkembang
kembali setelah terbentuknya tiga kerajaan besar. Kerajaan Safawi di Persia,
kerajaan Mughal di India dan Usmani di Turki. Usmani merupakan kerajaan yang
paling awal berdiri sekaligus sebagai kerajaan yang terkuat diantara ketiganya.
Urutan
penyajian berikut ini akan dimulai pada kerajaan yang terlemah atau yang
tercepat mengalami keruntuhan dengan urutan Safawi, Mughal dan Usmani.
1. KERAJAAN
SAFAWI
Kerajaan ini bermula dari sebuah gerakan tarekat yang didirikan
oleh Safiuddin(1252-1332) di Ardabil, sebuah kota di Azarbaijan. Tarekat ini
dinamakan Safawiyah yang berasal dari nama sang pendiri tarekat ini, bahkan
ketika gerakan tarekat ini mendirikan sebuah kerajaan, nama tarekat ini
dipertahankan sebagai nama kerajaan. Safiuddin segera mendirikan sebuah tarekat
setelah kematian gurunya, syekh Tajuddin Ibrahim pada tahun 1301. Dalam waktu
yang tidak lama tarekat ini berkembang pesat di Persia, Syiria dan Asia kecil.
Pada mulanya gerakan tarekat ini bertujuan memerangi orang-orang ingkar dan
golongan ahli bid’ah.
Fanatisme tarekat ini yang menentang golongan selain Syiah
mendorong gerakan ini memasuki gerakan politik. Kecenderungan terhadap politik
terwujud pada masa kepemimpinan Imam Junaid (1447-1460 M) dimana sang imam
menambahkan gerakan politik selain gerakan keagamaan. Hal ini menumbulkan
konflik antara tarekat Safawiyah dengan pemimpin-pemimpin Kara Konyulu, salah satu cabang bangsa Turki
yang berkuasa di wilayah ini. Sang imam berhasil diusir oleh pihak penguasa dan
diasingkan. Selanjutnya sang imam bersekutu dengan Uzun Hasan, seorang pemimpin
AK-Konyulu. Pesekutuan imam Junaid dengan Uzun Hasan semakin kuat dengan
pernikahannya dengan saudara perempuan Uzun Hasan. Imam Junaid tidak berhasil
meraih supremasi politik di wilayah ini, lantaran upayanya merebut kota Ardabil
dan Sircassia mengalami kegagalan.
Sepeninggalan Imam Junaid, pemimpin tarekat Safawiyah digantikan
oleh anaknya yang bernama Haidar. Haidar menikahi putri Uzub Hasan dan
melahirkan anak yang bernama Ismail. Sang anak inilah yang kelak berhasil
mendirikan kerajaan Safawiyah di Persia. Atas persekutuan dengan Ak-Koyunlu,
Haidar dapat mengalahkan kuatatan Ak Koyunlu dalam pertempuran yang terjadi
pada tahun 1476 M. kemenangan ini membuat nama Safawiyah semakin besar dan hal
ini tidak dikehendaki oleh Ak- Koyunlu. Persekutuan antara Safawiyah dengan Ak
Koyunlu berakhir dengan sikap Ak Koyunlu memberikan bantuan kepada sirwan
ketika terjadi pertempuran antara pasukan Haidar dengan pasukan Sirwan. Pasukan
Safawiyah mengalami kehancuran dan Haidar terbunuh dalam pertempuran ini.
Kekuatan Safawiyah bangkit kembali dalam kepemimpinan Ismail. Ia
selama lima tahun mempersiapkan kekuatan dengan membentuk pasukan Qizilbash
(pasukan baret merah) yang bermarkas di Gilan. Pada tahun 1501 pasukan
Qizilbash berhasil mengalahkan Ak Koyunlu dalam peperangan di dekat Nakhchivan
dan berhasil menaklukan Tibriz, pusat kekuasaan Ak Koyunlu. Di kota ini Ismail
memproklamirkan berdirinya kerajaan Safawiyah dan menobatkan diri sebagai raja
pertamanya.
Ismail berkuasa selama 23 tahun, yakni antara tahun 1501-1524 M.
beberapa tahun pertamanya ia berhasil menumpas sisa-sisa kekuatan Ak Koyunlu
dan melancarkan gerakan ekspansi. Ekspansi ini berhasil menaklukan propinsi
Caspia di Nazandaran, Gurgan dan Yazd (1504 M), Diya Bakar(1505-1507 M), Bagdad
dan wilayah barat daya ditaklukan pada 1508 M, sedangkan Khurasan takluk pada
tahun 1501 M. hanya dalam waktu 10 tahun Ismail dapat memperluas wilayah
kekuasaan yang meliputi seluruh wilayah Persia dan wilayah subur “bulan sabit”
(fertile crescent).
Ambisi politik membuat Ismail meneruskan gerakan ekspansi untuk
menguasai daerah-daerah lainnya sehingga kekuatan Safawiyah harus berhadapan
dengan kekuatan Turki Usmani di Chaldiran. Pasukan Usmani yang dipimpin sultan
Salim lebih unggul dan menguasai kota Tibriz. Keadaan Safawiyah terselamatkan
dengan kepulangan sultan Salim ke negerinya karena di Turki sedang terjadi
perpecahan ditubuh militer. Permusuhan antara Safawi dengan Usmani tetap
berlangsung, sepeninggalan Ismail yakni pada masa Tahmasp I, Ismail II dan
Muhammad Khudabanda. Dalam peperangan masa-masa tersebut diatas Safawi selalu
menjadi pihak yang terdesak.
Munculnya Abbas I (1588-1628 M) sebagai raja kelima berhasil
memulihkan kekuatan kerajaan Safawi. Ia menempuh beberapa kebijakan sebagai
berikut: pertama, mengurangi dominasi pasukan Qizilbash dengan cara membentuk
pasukan baru yang terdiri dari budak-budak tawanan perang yang berasal dari
Georgia, Armenia, Sircassia. Kedua, mengadakan perjanjian damai dengan kerajaan
Turki Usmani. Demi terciptanya perdamaian ini
Abbas I berkenan melepaskan wilayah kekuasaan Azerbaijan, Georgia, dan sebaian
wilayah lainnya. Disamping itu Abbas I berjanji tidak akan mencaci tiga
khalifah Islam pertama (Abu Bakar, Umar, Utsman). Sebagai jaminan atas
perjanjian ini ia bersedia menyerahkan saudara sepupunya Haidar Mirza sebagai
sandera di Istambul.
Setelah Abbas berhasil memperkokoh kekuatan Safawi, ia selanjutnya
mulai mengerahkan pasukannya untuk merebut kembali beberapa wilayahnya. Pada
tahun 1598 ia mulai menyerang dan menundukan Heralt. Kemudian segera merebut
Marw dan Balkh dan beberapa wilayah kekuasaan Usmani berhasil dikuasainya.
Maka, permusuhan antara dua kerajaan yang berbeda aliran ini berkobar kembali.
Pada tahun 1602, ketika Usmani dalam kekuasaan sultan Mahmud III, serangan
pasukan Abbas berhasil menguasai Tibriz, Sirwan dan Bagdad, demikian kota-kota
lain satu demi satu dapat ditaklukan oleh Abbas I. pada tahun 1622, pasukan
Abbas I berhasil merebut kepulauan Hurmuz.
Masa kekuasaan Abbas I merupakan puncak kejayaan kerajaan Saafawi.
Ia berhasil mengatasi gejolak politik dalam negeri yang mengganggu stabilitas
Negara dan sekaligus ia berhasil merebut kembali beberapa wilayah kekuasaannya
yang sebelumnya lepas terebut oleh kerajaan Usmani. Kemajuan ekonomi pada masa
ini bermula dengan penguasaan atas kepulauan Hurmuz dan pelabuhan Gumrun yang diubah
menjadi Bandar Abbas. Dengan demikian Safawi menguasai jalur perdagangan antara
barat dan timur. Safawi juga mengalami kemajuan dalam bidang pertanian dan
daerah sabit yang sangat subur (fertile Crescent).
Kemajuan ekonomi ini mengantarkan kerajaan Safawi mencapai kemajuan
dalam bidang ilmu pengetahuan dan seni. Bahwa bangsa Persia, sepanjang sejarah
Islam dikenal sebagai bangsa yang telah berperadaban tinggi dan telah berperan
dalam mengantarkan kemajuan ilmu pengetahuan pada masa Abbasiyah. Maka tradisi
kelilmuan seperti ini tetap berlanjut pada masa kerajaan Safawi antara lain; di
bidang filsafat, sejarah, teologi dan ilmu umum ada Baha al Din al Syaerozi,
Sadar al Din al Saerozi, Muhammad Al baqir Ibn Muhammad Damad. Ilmuan tersebut
terakhir pernah mengadakan observasi kehidupan lebah.
Kemajuan seni arsitektur ditandai dengan berdirinya sejumlah
bangunan megah yang memperindah ibukota kerajaan ini. Sejumlah masjid, sekolah,
rumah sakit, jembatan yang memanjang diatas Zende Rudd an istana Chihil Sutun.
Kota Isfahan turut memperindah dengan kebun wisata yang sangat indah. Ketika
Abbas I meninggal, di Isfahan terdapat sejumlah 162 mesjid, 48 perguruan, 1802
penginapan dan 273 tempat pemandian umum.
Sepeninggalan Abbas I tahun1628 kerajaan Safawi dilanda kemunduran
yang secara berangsur-angsur membawa kepada kehancurannya. Sejjumlah penguasa
setelah Abbas I adalah penguasa yang lemah sehingga tidak mampu mempertahannya
kejayaan kerajaan. Safi Mirza, cucu sekaligus pengganti Abbas I, berperangai
buruk serta bertindak kejam terhadap pembesar kerajaan sekalipun karena alas an
yang remeh. Sejak masa ini, beberapa wilayah safawi terlepas oleh penguasa
lain. Misalnya, wilayah Kandahar dirampas oleh kerajaan Mughal Delhi. Kemudian
Ervan, Tibriz dan Bagdad direbut oleh pasukan Usmani antara 1635-1636 M.
Abbas II sekalipun memiliki semangat perjuangan untuk kerajaan
Safawiyah dengan merebut kembali wilayah Kandahar dari kekuasaan Syah Jihan.
Namun upaya ini tidak diteruskan oleh penggantinya. Sulaiman dan Husein merupakan
penguasa yang lemah, keduanya tidak berhasil mengatasi gerakan pemberontakan
yang dilancarkan oleh masyarakat Afghanistan, sehingga gerakan ini mengakhiri
pemerintahan Safawi di wilayah ini. Benih pemberontakan ini telah ada semasa
Sulaiman, dan berubah semakin kritis akibat pemaksaan paham Syiah terhadap
paham Sunni yang dilakukan oleh Husein. Maka masyarakat Sunni Afghanistan
bengkit melancarkan pemberontakan dibawah pemimpin Mir Vayz dan Mir Mahmud.
Husein dipaksa menyerah oleh gerakan pemberontakan ini.
Tahmasp II, putera Husein berhasil melarikan diri ke Astrabad. Atas
bantuan dan dukungan suku Qazar dari Rusia ia berhasil membangun kembali
kerajaan Safawi pada tahun 1722 dengan ibukota di Astrabad. Pada tahun 1726
Tahsamp II bergabung dengan Nadzir Khan dari suku Afshar untuk mengusir
kekuasaan Afghanistan yang menduduki wilayah Isfahan. Demikianlah bahwa Nadzir
Khan cukup berjasa terhadap Tahsamp II dalam membangun kembali kerajaan Safawi.
Namun ternyata, Nadzir Khan memiliki kepentingan politik dibalik dukungannya
terhadap Tahsamp II. Hal ini terbukti dengan peristiwa pemecatan Tahsamp II
oleh Nadzir Khan. Kemudian Nadzir Khan menunjuk Abbas III yang belum genap
berusia satu tahun. Empat tahun kemudian, Nadzir Khan memproklamirkan diri
sebagai raja menggantikan Abbas III. Peristiwa yang menandai berakhirnya
kerajaan Safawi ini terjadi 8 Maret 1736 M.
Kemunduran kerajaan Safawi ini juga karena factor ketidakcakapan
sejumlah raja setelah Abbas I, konflik militer yang berkepanjangan dengan
kerajaan Usmani dan tidak adanya semangat pasukan Budak-budak yang dibentuk
oleh Abbas I menggantikan pasukan Qizilbash.
tulisan ini real semua saya kutip dari buku Sejarah Islam (Tarikh pramodern) karya Prof. K. Ali
yang diterbitkan oleh PT.Raja Grafindo Persada Jakarta, next time bakal saya lanjut pembahasan pada kerajaan Mughal ... [TO BE CONTINUE]
yang diterbitkan oleh PT.Raja Grafindo Persada Jakarta, next time bakal saya lanjut pembahasan pada kerajaan Mughal ... [TO BE CONTINUE]
Komentar
Posting Komentar