Filsafat Ilmu



hallo semua, kali ini saya akan memposting "riview" buku Filsafat Ilmu (Prespektif Barat dan Islam) karya Dr.Adian Husaini, et.al. sebenarnya tugas ini sudah lama ketika saya ditugasi oleh dosen saya Bapak Abuddin Natta untuk ini. dan kali ini saya ingin berbagi lewat postingan saya kali ini.

Nama                 : Novi Fatonah
NIM                   : 11150110000051
Judul Buku          : Filsafat Ilmu (Prespektif Barat dan Islam)
Pengarang           : Dr.Adian Husaini, et.al.

Bab 1 :  Sekularisasi Ilmu
Revolusi ilmiah terjadi di Barat ditandai dengan zaman Reinaisans dan pencerahan, reinaisans yang muncul pada abad ke 16 menandai kembali zaman Yunani-Romawi. Kaum Humanis yang bertolak belakang dengan teolog-teolog Kristen, reinaisans merupakan gerakan kaum Humanis yang menupakan sekelompok kecil sarjana dan seniman dan didukung oleh pendukung-pendukung liberalnya. Zaman pencerahan dimulai pada abad ke 18 dimana orang sudah tidak takut mengungkapkan pendapatnya. Revolusi ilmiah inilah yang menyebabkan Epistimologi mengalami perubahan secara subtansial. Epistimologi Barat-Modern semakin bergulir mulai hadirnya filsafat Hegel, munculnya paham ateisme dengan berbagi tokoh seperti Ludwig Feurbach, Karl Marx bahkan August Comte si penemu istilah sosiologi yang membagi perkembangan masyarakat menjadi tiga fase yakni fase teologis, metafisik dan positif, fase-fase tersebut saling bertolak belakang. Sejalan dengan itu Comte menolak keberadaan agama dengan paham positifismenya diikuti oleh para sosiolog lainnya seperti Emile Durkheim dan Herbert Spencer.
Kritik terhadap eksistensi agama juga dilontarkan oleh Friedrich Nietzsche dalam karyanya Thus spoke ZarathustraGod died, now we want the overman to live.” Dalam pandangannya agama adalah “membuat lebih baik sesat dan membiuskan” bagi Nietzsche agama tidak bisa disesuaikan oleh ilmu pengetahuan, menurutnya “antara agama dan sains adalah betul, namun tidak saling berkaitan, persahabatan bahkan permusuhan. Keduanya menetap dibintang yang berbeda.”

Bab 2 : Filsafat islam dan Tradisi keilmuan Islam
Filsafat adalah Hikmah, menurut Al-Kindi adalah cinta pada kearifan. Menurut Ibn Sina adalah kesempurnaan Jiwa manusia takala berhasil menangkap makna segala sesuatu dan mampu menyatakan pikiran dan perbuatannya sebatas kemampuan sebagai manusia.
Al-Ghozali tidak setuju dengan pendapat ini. Menurutnya, lafaz Al-Hikmah telah dikorupsikan untuk kepentingan filosof karena menurutnya Al-Hikmah adalah syariat Islam bukan filsafat. Menurut kaum orientalis filsafat islam hanya kelanjutan dari filsafat Yunani kuno bahkan terselip rasisme bahwa dalam filsafat Islam hanya mengambil dan memelihara filsafat Yunani untuk diwariskan kepada generasi penerus. Namun, tidaklah demikian filsafat Islam bertujuan ganda yakni membenarkan yang benar dan membatalkan yang batil secara rasional,persuasive dan elegan, seperti rasa ingin tahu Nabi Ibrahim akan bagaimana Allah menghidupkan orang yang mati.


Bab 3 : Urgensi Epistimologi Islam
Sejarawan Irlandia Wallace Murphy dalam bukunya What Islam did for us: Understanding Islam’s contribution to western civilization, menggambarkan kejayaan keilmuan Islam memberi jasa besar dalam perkembangan ilmu di Barat pada masa kejayaan Islam di Spanyol. Kaum Kristen di Eropa, menurutnya, mengenal ilmu pengetahuan bukan langsung dari warisan Yunani, tetapi dari buku-buku berbahasa Arab karangan ilmuwan-ilmuwan Muslim dan Yahudi. Pusat-pusat pembelajaran Islam di Spanyol disebut sebagai “The greatest Cultural centre in Europe” ketika Barat menjadikan kampus-kampus di Spanyol sebagai model seperti kampus-kampus terkenal (oxford University dan Cambridge).
Setelah mengalami fase kegelapan atau the dark ages of Europe Barat kemudian menegembangkan worldview dan filsafat ilmu sekuler yang menolak keberadaan dan kehadiran Tuhan dalam seluruh aspek kehidupan. Tuhan dianggap sebagai penghambat kebebasan manusia (Jean Paul Sartre). Itulah mengapa kaum sekuler menganggap yang ada hanya pada yang terlihat/ada (positifisme) dan yang dimasuk akal (rasionalisme). Mereka terus menerus memikirkan penciptaan alam semesta dengan alat indranya dan rasionalismenya. Berbeda dengan Islam, konsep worldview berorientasi pada kehidupan akhirat melahirkan ilmu-ilmu yang menyatu dengan amal. Inilah keistimewaan konsep ilmu dalam Islam. Dalam konsep Islam orang pintar yang melakukan perbuatan jahat akan tidak dihargai bahkan ccenderung dimusuhi oleh masyarakat. Islam menempatkan Wahyu sebagai sumber ilmu maka tidak akan ada tradisi ilmu yang memisahkan antara aspek ilmu dan akhlak seperti seorang yang berilmu wajib mengamalkan ilmu yang dimilikinya jika tidak mereka akan dianggap sebagai orang yang fasik. Tentu hal ini sangat berbeda dengan ilmuwan-ilmuwan Barat dan dunia Internasional yang menurut paul Johnson dalam bukunya “intellecutals” dianggap penuh kebejatan moral pada sejumlah ilmuwan besar di Barat.

Bab 4 : Konsep ilmu dalam Islam
Ilmu menempatkan posisi yang sangat penting dalam Islam. Penekanan pada ilmu sangat jelas terlihat pada Al-Qur’an dan hadis Nabi SAW, bahkan dalam hadis nabi orang yang menuntut ilmu akan dimudahkan jalannya ke surga, malaikat menghormatinya dengan meletakan sayap-sayapnya, sampai ikan-ikan yang ada di lautpun memohon ampunan kepada si penuntut ilmu. Budaya ilmu di tengah-tengah masyarakat Muslim bukan hanya bertumpu pada prinsip Al-Qur’an, sunah dan akal sehat saja tetapi dengan mementingkan fakta kejadian alam semesta serta pengalaman manusia dalam sejarah atau dalam dirinya.
Dalam wahyu pertama Allah menegaskan bahwa ilmu bersumber dariNya sehingga apa yang tertuang dalam Al-Qur’an atau sunah adalah ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Allah juga memerintahkan manusia untuk mencari ilmu lewat membaca. Ilmu-ilmu yang berkaitan dengan aspek keagamaan disebut dengan al-‘ulumus syar’iyyah yang menurut al-Faruqi adalah ilmu Bahasa (yang merupakan kunci dari memahami wahyu dan Sunnah), ilmu Al-Qur’an hadis (yang merupakan penjelas, teladan dan perwujudan makna Al-Qur’an), Ilmu syariat (menentukan perintah-perintah islam). Konsekuensinya adalah islam tidak mengenal dikotomi ilmu (yang satu diakui yang satu tidak atau yang logis-empiris dikategorikan ilmiah sedangkan yang berdasarkan wahyu tidak dikategorikan ilmiah) semua oleh islam diakui sebagai sesuatu yang ilmiah. Dalam islam hanya dikenal dengan klasifikasi (pembedaan) atau diferensiasi (perbedaan) bukan dikotomi seperti yang dilakukan di Barat.
Bab 5 : Mendefinisikan dan memetakan Ilmu
Menerut Plato ilmu adalah keyakinan sejati yang dibenarkan. Menurut Imam al-Ghazali ilmu adalah pengenalan sesuatu atas dirinya (ma’rifat al-shay’ ‘ala ma huwa bihi) maksud disini adalah tahu sesuatu berarti mengenali sesuatu itu sebagai adanya. Imam al-Ghazali berdasarkan hadis wajibnya menuntut ilmu mengelompokan ilmu menjadi fard ‘ayn (tugas perorangan) dan fard kifayah (kewajiban kelompok). Yang amat penting Imam al-Ghazali membagi ilmu dari aspek ghard (tujuan kegunaan) pada sains-sains agama syar’iyyah (yang berasal dari wahyu Allah dan sunnah Nabi SAW) sehingga dibagi lagi kedalam terpuji dan tercela dan yang non-agama ghair syar’iyyah (yang dihasilkan oleh akal seperti ilmu hitung, yang dihasilkan oleh eksperimen seperti kedokteran atau yang dihasilkan oleh pendengaran seperti ilmu Bahasa) yang dibagi lagi menjadi terpuji, tercela dan yang diperbolehkan.

Bab 6 : Objek Ilmu dan Sumber-Sumber Ilmu
Ilmu merupakan produk dari worldview (pandangan alam) suatu bangsa, agama, budaya atau peradaban karena ia mengandung nilai kepercayaan dari masyarakat sehingga ilmu tidak bebas nilai. Objek Ilmu Dalam pandangan islam,secara antologis terdapat dua alam yang dikenal an di sebutkan dalam kitab Al-Qur’an yang pertama dalah alam metafisik (alam al-ghayib ) dan yang kedua adalah alam fisik atau tampak (alam al-shaddah). Dari keduanya maka lahirlah dua jenis ilmu (knowledge) yang juga disebutkan didalam Al-Qur’an, yaitu ilmu tentang alam metafisik dan ilmu tentang fisik. Sedangkan ‘ilm dan ma’rifah bukanlah jenis ilmu yang sama, namun memiliki perbedaan dari segi isi (content)namun juga objek ilmu tersebut.
Untuk mengetahui alam abssolut (alam Metafisik) ini tidak dapat dilakukan secara langsung namun juga membutuhkan bantuan perantara dari pada wahyu itu sendiri. Ilmu tanpa di imami oleh wahyu sendirihanya akan menyebabkan kerusakan dahsyat. Oleh karena itu ilmu dalam islam memang tidak dapat terlepas dari pada wahyu.seprti yang dinyatakan dalam surat Al-Alaq ayat 5 bahwa   “ DIA (Allah swt.) mengajarka kepada manusia apa yang tidak di ketahuinya”
Sumber ilmu dalam epistimologi islam ditekankan kepada Kalam Allah berupa kitab suci, kedua Nabi atau Rasulullah sebagai penerima wahyu, hadis(segala sesuatu yang berasal dari rasul yang berhubungan dengaan hokum dan ketentuan Allah SWT yang disyariatkan kepada manusia. Namun Al-Qur’an dan sunah juga mengafirmasi sumber ilmu lainnya seperti akal (‘aql), hati (qalb), serta indra-indra yang terdapat dalam diri manusia.

Bab 7 : Prinsip-prinsip Dasar Epistimologi Islam
        Setiap manusia normal sesungguhnya dapat mengetahui (‘ilm), dan mengenal (ma’rifah), memilih (ikhtiyar), dan memilah (tafriq), mebedakam (tamyiz), menilai dan menentukan (hukum), mana yang benar dan mana yang salah, mana yang hak dan mana yang batil. Mengetahui secara konsepsual, apapun yang kita ketahui pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua: (1) ada yang masih atau hanya berupa ide atau konsep. Misalnya, konsep tenang orang , binatang, batu, dan lain-lain), dan (2) ada yang sudah berbentuk, kalimat, pernyataan, atau ungkapan. Contohnya “tiada tuhan selain Allah swt.”

Pengklasifikasikan pengetahuan: pertama, pengetahuan berupa proposi atau pernyataan yang menunjuk objek presepsi indrawi (al-hissiyat) seperti pengertian kita bahwa madu rasanya manis. Kedua, berupa ungkapanyang kita ketahui secara “periori” seperti ½ lebih besar dari ¼. Ketiga, pernyataan yang mewakili intuisi, pengalaman mistik, visi spiritual, keempat, pernyataanyang memuat berita wahyu yang di dengar,diriwayatkan, dan dinukil dari sumber-suber otoritatif. tidak semua kabar disebut mutawatir, ada beberapa syarat yang menjadikan kabar itu mutawatir atau tidak: pertama, para narasumbernya harus tau apa yang ia katakana, sampaikan atau mereka laporkan. Syarat ke dua yaitumereka harus mengetahuinya secara pasti, menyaksikan, mengalami, atau mendengarnya secara langsung tanpa ilusi. Epistimologi mencakup arti mengetahui, obyek pengetahuan, sumber ilmu pengetahuan, validasi ilmu dan lain-lain dalam islam adalah khas. Oleh karena itu dalam menuntut ilmu umat islam diharuskan kritis dan berhati-hati dengan melakukan scaning dan check and recheck.

Bab 8 : Konstruk Epistimologi Islam (Telaah Bidang Fiqih dan Ushul Fiqih)
Ilmu fiqih memiliki kedudukan yang sangatlah tinggi dalam pemikiran islam karena ilmu fiqih bukan plagiat atau adopsian dari hukum-hukum para romawi terdahulu melainkan berasal dari Al-Quran dan as-Sunnah. Perlu ditekankan bahwa fiqih bukan sya’riat . seadangkan sya’riat sendiri lebih luas dari sekedar hukum saja. Ia mencakup fiqih, Aqidah, dan juga akhlak. fiqih bersifat relatife dan fleksibel dapat berubah-ubah sesuai keadaan zaman misalnya,karena ia merupakan produk ijtihad para ulama Usul fiqih adalah disiplin ilmu yang memiliki prinsip-prinsip epistimologi.
Usul fiqih adalah disiplin ilmu yang memiliki prinsip-prinsip epistimologi, bukan sekedar metedologi pendarvisian hukum misalnya seperti, qath’i dan zhanni, syakk dan wahm, mutawatir dan ahad. Jika logika dapat menghindarkan kesalahan yang dilakukan seseorang dalam berargumen, maka ushul fiqih mencegah seorang faqih berbuat kesalahan dalam menderivasi hokum. Dalam epistimologi tujuan ushul fiqih adalah membuktikan bahwa wahyu dan akal tidak bertolak belakang.

Bab 9 : Metodologi Ilmiah dalam Islam
Wawasan Barat yang memiliki sejarah yang panjang, universal dan global, serta yang memandang sejarah adalah sumber utama pengetahuan ini tidak sejalan dengan wwasan Islam. Islam memandang wahyu sebagai pengetahuan yang utama. Pemisahan teologi dan sejarah, nalar dan wahyu, ataupun subjektif dan objektif seperti di Barat merupakan proses sekulerisasi dan sekularisasi terhadap agama yahudi-kristen. Sedangkan Islam adalah agama wahyu bukan sejarah, Islam bersifat unik, final dan pemuncak serta tidak dapat menjadi sasaran keadaan dan suasana. Syed Muhammad Naquib al-Attas dengan tepat mengamati bahwa islam tidak hanya sekedar nomina verbal yang menandakan kepasrahan terhadap tuhan, tapi juga nama suatu agama. Agama islam terdiri dari afirmasi atas keesaan tuhan (al-tauhid) sekaligus atas kenabian Muhammad saw.
 Metedologi berasal dari ilmu hadist. Para periwayat hadist yang terpercaya tidak memiliki peringkat yang sama. Bagi Ibn Abi Hatim al-Razi  ada empat peringkat  (1) tsiqoh ‘terpercaya’atau muttaqin ‘tepat, (2) shadiq ‘jujur’ mahalluhu ali-sidiq ‘kedudukannya jujur’(3) shaykh; (4) shalih al-Hadist ‘baik atau lurus periwayatnya.dan kebanyakan para periwayat terpercaya tidak hanya penting dalam menentukan otentisitas kesahihan tidaknya hadist. Tetapi juga dalam menentukan bacaan yang sebenarnya dari Al-Quran. Bagi kepentingan metedologi hadist,  tsiqah ‘dapat dipercaya’ merupakan syarat utama bagi hadist outentik.

Bab 10 : Ilmu dan Adab dalam Islam
Dalam islam ilmu dan adab adalah hal yang saling terintegrasi, yang saling menguatkan antara yang satu dengan yg lainnya. Keduanya ibarat koin yang tak terpisahkan dan bermakna yang satu tergantung pada yang lannya. Ilmu tanpa adab bagai pohon tanpa buah, adab tanpa ilmu bagaikan orang berjalan tanpa arah dan tujuan. Berilmu tanpa adab adalah dimurkai (almaghdubialaihim), sementara beradab tanpa ilmu adalah kesesatan (addhalin). Ilmu yang bermanfaat (ilmu nafi’) akan membawa kepada iman. Realisasi iman akan membawa kita kepada amal shalih. Dan integrasi antara keduanya akan membawa kepada jalan yang lurus.
Jadi, Tanpa adab dunia pendidikan berjalan tanpa ruh dan makna. Lebih dari itu, penyebab  utaman hilangnya keberkahan dalam dunia pendidikan adalah kurangnya perhatian civitas akademiknya dalam masalah adab. Oleh karena itu adab merupakan hal penting bagi pencari ilmu. Ibnu Jamaah mengatakan “mengamalkan 1 bab adab itu lebih baik daripada tujuh puluh bab ilmu yang hanya sekedar dijadikan sebagai pengetahuan. Artinya , ilmu sedikit yang diiringi dengan adab lebih baik dari pada ilmu yang banyak tapikosong dari adab.

Bab 11 : Makna Adab dalam Prespektif Pendidikan Islam
Berdasarkan beberapa hadis Rasulullah dan pendapat para ulama berpendapat jadi adab lah yang paling penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Karena tanpa adab dan perilaku yang taerpuji maka apapun amal ibadah yang dilakukan seseorang tidak akan bernilai ibadah di mata Allah. Masyarakat beradab menurut islam adalah masyarakat yang memuliakan orang-orang berilimu , orang-orang soleh dan orang-orang yang bertaqwa. Bukanlah orang yang berkuasa, banyak harta, ketururan raja, rupawan, dan banyak anak buah. Orang beradab akan memahami dan meletakkan sesuatu pada tempatnya , sesuai dengan harkat dan martabat yang ditentukan oleh Allah. Di dalam islam orang yang tidak percaya akan adanya Allah dapat disebut orang yang tidak adil dan beradab. Sebab dalam Al-Quran surah Luqman ayat 13 bahwa orang yang syirik dapat disebut dengan kedzaliman yang sangat besar.

Bab 12 : Islamisasi Ilmu Pengetahuan
            Saat ini sedang terjadi peradaban barat yang berlandaskan pada paham sekularisme, rasionalisme, utilianisme, dan matrealisme telah membawa kita menuju keambang kehancuran. Memang tidak dapat dipungkiri dalam era moderenisasi ini telah banyak membantu masyarakat dari bidang teknologi dan ilmu-ilmu lainnya, namun disamping moderenisasi dari peradaban barat juga telah menghasilkan penjajahan, perang berkepanjangan, penyimpangan sosial, kerusakan alam, keterasingan dan anoime. Hal ini juga mengakibatkan ketidak seimbangan dan ketertiban di masyarakat.
Ilmuan muslim terdahulu melakukan naturalisasi dengan menyerap dan mengadaptasi ilmu-ilmu dari yunani. Naturalisasi atau islamisasi awal islam ini akan dijelaskan bagian sejarah islamisasi ilmu pengetahuan. Sedangkan ilmu isalm yang berkembang diabad pertengahan kemudian dibawa (diambil) barat dan di naturalisasi dengan cara disekularisasi. Dengan ilmu yang sudah disekulerisasikan tersebut diabangunlah peradaban barat yang sekarang ini tengah berjaya. Untukitu, perlu kita ketahui proses terjadinya proses sekularisasi dan rasioanalisasi ilmu sebelumnya mempunyai aspek-aspek spiritual akhirnya dihilangkan sama sekali tinggal aspek rasio semata.


Komentar :
Agama mesti diintegrasikan atau dipadukan dengan wilayah kehidupan manusia, hanya dengan jalan inilah agama benar-benar menjadi rahmat bagi pemeluknya, bagi umat manusia atau bahkan bagi alam semesta. Agama dan Sains harus berjalan seimbang dan berdampingan, bukan berjalan sendiri-sendiri. Namun kenyataannya kedua raksasa ini akan saling berebut pengikut. Memang intisari dari diatas adalah agama tidak butuh sains dan sains tidak butuh agama. Namun, UMAT MANUSIALAH YANG MEMBUTUHKANNYA untuk mencukupi kelangsungan hidup mereka. Seperti perkataan Einstein “Agama tanpa ilmu BUTA dan Ilmu tanpa agama MATI.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepada Novi

Tak Malukah Kita?

Jogja Malam Setengah Dua